Insecure
Aku hanya terdiam seribu kata. Melihat
banyak kenyataan yang kualami seiring berjalannya waktu. Banyak hal yang sulit
ku ungkapkan. Semakin dewasa, semakin sedikit kesempatan yang ada. Faktor finansial
sangat membatasi ruang gerakku. Orang kaya bisa melakukan banyak hal untuk
mencoba sesuatu, tanpa takut kehabisan uang. Sedangkan aku? Aku selalu
ketakutan setiap harinya. menghabiskan tiga ribu rupiah hanya untuk air minum
botol, aku merasa bersalah.
Kini umurku 25 tahun. Semua orang
yang seumuran denganku sudah menikah. Menjajaki kehidupan dengan perasaan
gembira dan menghamburkan uang sesuka hati. Aku tidak tahu, apakah keinginanku
yang terlalu tinggi atau biaya kursus yang sangat mahal? Aku ingin menjadi
sinematografer. Namun banyak waktu yang kulewati dan kuhabiskan hanya untuk
melunasi hutang dan mengumpulkan uang. Keringat aku peras untuk kehidupanku
kedepannya. Rasa insecureku selalu menetap dalam otakku. Membandingkan diriku
dengan orang yang lebih baik dariku.
Aku menghela nafas pelan. Menatap jalanan
yang sesak dan panas. Aku melewati ribuan pedagang kaki lima yang memberikan
berbagai macam aroma ataupun asap. Bau sate, bakso, durian dan lain sebagainya.
Aku berhenti sejenak saat lampu
merah tiba. Melihat banyak pengamen bedatangan, bernyanyi, atau sekedar
menodongkan kaleng untk meminta uang. Beberapa pedagang kerupuk dan makanan
ringan juga ikut berkeliling. Jika aku tidak sabar, pasti aku sudah berteriak ‘JANGAN
GANGGU AKU!’ Namun tentu saja itu bukan solusi, hanya akan mengundang petaka
untuk diriku.
Aku hanya menghela nafas. Melihat sejenak
keramaian di jalanan wonokromo. Terlintas di benakku beberapa pertanyaan tentang
kehidupan mereka. Apakah mereka sudah makan? Apa mereka bisa menerima keadaan
seperti ini? Mengapa mereka memilih untuk berjualan, mengamen dan sebagainya? Apakah
mereka bahagia melakukan itu? Apakah mereka memiliki cita-cita? Atau memiliki kehidupan
yang tak jauh beda dengaku?
Kepalaku terus berputar memikirkan
hal-hal yang tidak penting. Melihat dunia dari berbagai sisi dan menikmati
kehidupan dari pengalaman orang lain. Namun tak ku sadari sepeda motorku
sedikit terdorong ke depan.
“Masih lampu merah, sabar.” Ucapku saat
menoleh kebelakang. Mengetahui bahwa ada mobil yang tak sengaja menabrakku
hingga sepeda motorku hampir menginjak zebra cross.
“Maaf.” Seseorang dari dalam mobil
mengangkat tangannya sebagai tanda meminta maaf.
Aku tidak meperdulikan lagi
perbuatan tukang supir ugal-ugalan yang habis menabrakku dari belakang. Aku memutar
pikiranku lagi. Menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Melihat beberapa
mobil di sampingku. Mereka yang di dalam mobil sungguh nyaman. Tidak merasakan perasaan
sesak atau panas. Apa aku bisa seperti mereka? Aku bertanya-tanya kembali.
Semua kisahku bahkan tak menarik
untuk diceritakan. Jika ku buat novelpun sudah pasti tidak laku. Siapa yang mau
membaca tentang hari-hariku yang penuh dengan kisah insecure?
Aku jadi teringat beberapa tahun
yang lalu. Aku menulis banyak sekali cerita, hanya cerita. Setelah besar dan
memahami bagaimana karya sastra di buat, aku merasa malu. Aku selalu bertanya-tanya.
Apakah yang ku tulis sudah benar? Apakah ada kesalahan? Wah… tulisanku seperti
penulis salon. Aku hanya tertawa kecil mengingat semua kehidupanku dan menonton
kehidupan orang lain. Aku penasaran seberapa banyak rasa insecure orang lain?
Komentar
Posting Komentar