KISAH RHEA

 0

Cincin allea

 Yashinta Nur Zakiyyah

Inilah aku, allea. Gadis yang hanya menyukai kebebasan dan keindahan. Namun dari semua yang aku sukai, tak ada satupun yang dapat berpihak padaku. Untuk kebebasan pun aku masih belum memiliki itu, karena saat ini aku berusia 17 tahun. Mama masih melarangku untuk melakukan hal – hal yang ku sukai dan ku inginkan. Karena pada dasarnya hal – hal yang ku sukai itu akan rusak setelah ku sentuh, bahkan dengan ujung jariku. Keindahan yang ku maksud hanya berupa sebuah taman yang memiliki berbagai macam bunga indah di dalamnya.untuk kebebasan, aku masih belum cukup memahami ap aarti bebas diusiaku saat ini.

Mama memang melarangku melakukan kegiatan yang kusukai, seperti membuat keindahan dengan menanam bunga. Namun, bukan berarti aku tidak diperbolehkan memiliki taman bunga. Aku memilikinya, namun bukan aku yang membuat taman itu. melainkan mama yang membuatnya. Karna aku menyukai keindahan itu, aku hanya bisa melihatnya dari jauh tanpa menyentuhnya. Taman bunga yang kupunya hanya bisa aku lihat dari jarak 3 meter dari depan rumah. Luas taman di halaman rumah hanya sekitar 4x7, taman ini memakan seluruh halaman rumah dan menyisahkan beberapa meter sebagai garasi mobil. Untuk keseluruhan tamanku, mama yang merawat dan menanamnya untukku. Semua tanaman bunga yang di tata rapi di taman merupakan rekomendasiku. Sehingga mama membuatkan taman kecil dengan berbagai macam bunga yang ku sukai, seperti tumbuhan mawar, melati, anggrek, bugenvil, kembang sepatu hingga tanaman yang paling aku sukai, wisteria. Bunga wisteria berwarna ungu ini merupakan tanaman subtropics, sehingga penanaman hingga perawatan bunga ini sangatlah sulit. Dulu saat awal aku meminta taman, tanaman ini merupakan tanaman pertama yang ku punya. Mama sering sekali marah padaku untuk mengganti bunga yang lebih mudah di rawat, namun aku tidak mau. Karena bunga ini sangatlah indah. Ketika bunga wisteria ini baru ber umur 3 bulan, bunganya mulai terlihat. Namun saat itu, mama sering kali lupa meletakkan bunga ini di tempat teduh. Sehingga bunga itu layu dan harus dirawat lagi. Namun kini, bunga wisteria tumbuh subur di depan rumah. Entah berapa meter Panjang bunga ini hingga cabangnya menutupi Sebagian besar kanopi depan rumah. Menggelatung dan merambat sesuai yang diinginkan bunga ini. Lalu jarak 1 meter dari pintu rumah ke taman, mama menyediakan tempat duduk santai dengan 2 kursi dan meja kecil berwarna putih, sehigga aku bisa menikmati taman seperti saat ini. hanya menikmati taman sambil memakan cemilan buatan mama.

Namun terkadang aku sangat iri dengan tangan – tangan yang dapat melakukan segalanya, terutama tanam – menanam. andai saja aku dapat membuat tanaman hidup hanya dengan menyentuh, pasti itu akan benar – benar menyenangkan. Bukan merusaknya hanya dengan sekali sentuh.

“Berapa lama kamu duduk disitu, al?” mama mulai berkacak pinggang di depan pintu. Raut wajahnya seakan ingin menelanku mentah – mentah. “sudah besar tapi tahunya hanya makan dan main – main saja.” Omel mama. Kini tangannya sudah di turunkan. Mama melepas celmek yang menempel pada tubuhnya. Aku berlari kearah mama dengan senyum polos seperti biasa, membawa cemilan donat yang tersisa

“Ma, besok ada hari spesial.” Tanganku meraih tangan mama dengan wajah manja seperti anak kecil yang akan meminta izin bermain. “Al mau sepatu seperti anaknya tante zel.” Aku berkata lagi.masih dengan tangan yang memeluk tangan sebelah kanan mama.

“Lupakan soal hadiah, itu kita biacarakan nanti Ketika papa datang. Bantu mama masak dulu, sebentar lagi tante zel mau kesini mengambil makanan untuk acara RT.” Aku melepaskan tangan mama. Mama masuk ke rumah dan aku mengikutinya seperti anak anjing.

“Ma, al ingin menanam bunga matahari.” Kini langkahku menjajari mama yang akan pergi ke dapur.

“Iya, nanti mama tanamkan.” Ujar mama. Kini kami sudah berada di dapur. “Ambilkan rantang besar di lemari piring, lalu isi dengan ayam dan ikan yang sudah mama siapkan di meja.” Pinta mama. Aku mengangguk dan melaksanakan tugas dari mama dengan sigap.

“Pasti enak jika al punya kekuatan menumbuhkan tanaman. Ya kan, ma?” tanganku mulai sibuk memasukkan lauk ke dalam rantang, sedangkan mama mulai sibuk di depan kompor. Sesekali mencicipi, sesekali memberi garam atau gula. Aku tertawa kecil dari jauh, mama seperti seorang ahli kimia yang berada di labolatorium, mencampur dan menambahkan zat – zat yang dibutuhkan dalam adonannya.

“Kamu tidak akan punya itu, tangan mu hanya membuat tanaman tumbang saat sudah setinggi 5 senti.” Mama tertawa kecil. Wajahku cemberut mendengar perkataan mama.

Setengah jam lebih aku membantu mama memasak, kini aku dan mama sudah mulai membereskan dapur yang berantakan seperti kapal pecah.

“Ma, Al capek.” Aku mulai menyerah. Tubuhku, ku hempaskan di atas lantai. Bertingkah seperti orang pingsan. Mama tertawa kecil melihat ku.

“Yasudah, kamu kekamar dan mandi dengan air hangat. Badan kamu kotor, jangan lupa ganti baju lalu tidur.” Mendengar apa yang di katakan mama, aku mulai bangkit dan berlari kecil menuju kamar.

Tlit. Pesan masuk dalam ponsel ku. “Tugas?” aku berkata, pelan. Benar – benar menyebalkan. Padahal aku ingin sekali tidur setelah membersihkan badan. Aku bersungut – sungut, kesal.

“Rani, kenapa baru memberi tahu ku?” aku bertanya melalui telpon dengan nada kesal. Tanganku juga mulai sibuk mencari buku pr di tas.

“Apa maksudmu? Aku sudah memberi tahu mu, di sekolah dan sepulang sekolah. Bahkan aku mengirimkan pesan padamu.” Suara rani terlihat kesal menanggapi kalimat ku, aku bisa membayangkan wajah rani yang cantik akan berubah menjadi jelek Ketika marah. Aku menghela nafas, melihat pesan rani dalam ponselku. Benar, rani mengirim file tugas ini tepat jam 1 siang saat aku naik angkot bersamanya dan aku sendiri yang meminta mengirimkan file itu. lalu ini adalah pesan terbaru rani yang menanyai ku, ‘apakah aku sudah mengerjakan pr atau belum?’. Aku menepuk jidat karena lupa dan kurang memahami isi pesan rani. Percakapan kamipun berakhir, setelah kesalah pahaman diantara aku dan rani terselesaikan dengan kata maaf dan saling tertawa karena ke cerobohan ku sendiri.

Beruntungnya, tugas yang aku kerjakan ini bukanlah hal yang susah seperti pelajaran matematika ataupun fisika. Ini hanyalah tugas mengarang di kelas Bu Eka. Ibu guru yang terkenal dengan panggilan sayang. Ketika marah ataupun menasehati, bu eka tidak akan meningkatkan suaranya. Melainkan menjadi Bu Eka yang tiba – tiba mengeluarkan beberapa kata jawa yang manis dan medok serta yang paling di hafal adalah selipan kata sayang di setiap kalimat - kalimatnya.

“Haduh…. Tulisannya kayak ceker ayam. Aku raiso baca ngene ki, Al. Ayo, diulangi lagi nggeh…. Sayang ku, allea” ujar Bu Eka. “ Baik bu, saya akan perbaiki lagi nanti.” Jawabku, masih di hadapan Bu Eka. Menunggu Bu Eka memberikan buku tulis ku setelah di nilai. “Gitu ya sayang, harus bagus tulisannya. Kamu itu perempuan, jadi harus rapi, ya sayang.” Bu Eka memberikan buku padaku. Aku mengangguk paham dan tersenyum pada Bu Eka.

Seperti itulah Bu Eka, sosok guru sayang Ketika berbicara kepada siswa maupun orang lain. Di setiap perkataannya selalu mengandung unsur sayang, mungkin itulah yang membuat Bu Eka menjadi guru favorit di sekolah dan selalu menjadi tempat curhat siswanya di sekolah. Karena setiap saran maupun masukan dari Bu Eka, selalu dapat di terima dengan baik oleh muridnya. Sehingga tak ada satu pun murid yang tidak menyukainya. Untungnya Ketika berbicara dengan wali murid, Bu Eka tidak menggunakan kata – kata sayang dan aksen medok, yang penuh dengan kata – kata bijak. Melainkan hanya kata formal saja. Lucu, jika dibayang kan Bu Eka berbicara menggunakan bahasa informal kepada wali murid.

“Silan! Ini mah gampang banget, sedikit lagi, tugasnya. Kayak nya ini yang dinamakan tugas sedikit. Ya, sayang..” Aku menggerutu, memainkan paradoks sebagai semangat kecilku dan tertawa kecil karena secara tidak sadar, aku menirukan kata – kata Bu Eka. Aku mulai sebal dengan tugas yang sedang ku kerjakan ini, sehingga aku memukul – mukul kan pensilku di meja, pelan.

 “Arghh!! Susah!” aku melemparkan pensil ke sembarang tempat. Ini benar – benar tugas yang menyebalkan. Hanya sedikit, tapi butuh imajinasi membuatnya. aku meremat taganku, kesal.

“Sial!! Cincinku.” Aku melotot, melihat cincin perak dengan berlian hitam di atasnya hilang. Aku mulai bangkit dari tempat duduk  dan mencari kemana arah pensil yang ku lempar tadi, sepertinya cincin ku jatuh bersama pensil itu.

Aku menghambuskan nafas tertahan. Rasa takutku tiba  tiba muncul.

“Mamaaaaaaa, Papaaaaaa” aku berteriak kencang. Kini aku sudah berada di depan lemari dengan posisi jongkok dan menutup wajah dengan kedua telapak tangan.

Jeglek!! Pintu terbuka kencang membentur tembok. Sepertinya mama dan papa sudah datang.

“Tolong Al…” aku menangis, masih dengan tangan menutupi wajah ku.

“Kenapa? Ada apa Al?” papa bertanya. Tangannya meraih tubuhku dan memelukku.

“Ada apa? Mama sama papa di sini, Al.” kini mama berkata, tangannya mengelus lembut rambutku.

“Cincin…. Hilang….” aku mencoba menjelaskan, berharap mama paham apa yang ku maksud.

“Maksudnya? Mama nggak ngerti. Cobak buka tangan kamu, bicara yang benar.” Mama meraih tangan ku untuk melihat wajah ku dengan jelas.

“Cincin Al hilang ma….” Aku menangis lagi, lebih kencang dari sebelumnya. Namun aku sudah tidak menutup wajah dan tidak berada di pelukan papa.

“Tidak apa, nanti papa belikan lagi. Yang sama persis.”

“Tapi Al butuh itu, mama bilang itu cincin ajaib yang bisa mengusir hantu. Nanti gimana kalau malam – malam, Al tiba – tiba ditakutin hantu.” Kini tangisan ku mulai reda. Namun nada bicara ku sedikit tersedu – sedu.

“Hahaha…..” mama dan papa tertawa bersama, seakan melihat kepolosan ku yang ternistakan. Hal itu membuat isak ku terhenti sekaligus menatap heran mama dan papa yang tiba – tiba tertawa. “Itu hanya cincin biasa. Sudah, sekarang kamu tidur. Lagian kok bisa cincin kamu lepas? Padahal cincin itu kan bisa di putar untuk di kecilkan. Apa anak mama ini semakin kurus, sampai – sampai cincinnya lepas. “ kini suasana kamarku manjadi ramai dengan tawa mama dan papa.

 Aku tidak menyadari, jika cincin yang berbentuk seperti roll dan bisa di perbesar ataupun di perkecil itu hanyalah sebuah cincin biasa. Dari kecil cincin itu sudah melekat di tanganku, entah sejak kapan. Saat kecil aku pernah ketakutan karena melihat film hantu, pada akhirnya mama berkata jika aku tidak akan bisa didekati oleh hantu karena memakai cincin itu. sialnya, aku mempercayai itu hingga sekarang. Bahkan ini adalah kali pertama aku melepaskan cincin itu dari tangan ku.

Setelah selesai berbicara dengan mama dan papa, wajah ku mulai ber sungut – sungut kesal karena mendengar jawaban yang tidak sesuatu dengan ekspektasi ku. Meskipun begitu, aku akan tetap mencoba untuk mempercayai apa kata mama dan papa barusan. Aku mulai melangkah lagi kearah meja belajar dan mulai mengerjakan tugas Bu Eka.

Brakk!!! Buku ku tiba – tiba jatuh seakan ada gumpalan angin topan kecil yang menariknya keluar dari rak buku. Sontak kaki ku kuringkus ke atas kursi dengan tangan memeluk kaki yang ku lipat. Aku ketakutan. ‘Ada apa ini?’ aku bertanya dalam hati. Aku bahkan tak berani bersuara. Pelan – pelan aku berjalan meninggalkan meja belajar menuju ranjang dan mulai menarik selimut lalu menutupi sekujur tubuhku. Aku mengepalkan tangan dengan kondisi tubuhku yang masih tertutupi selimut. Sepertinya cincin itu memang benar – benar cincin penangkal hantu. Aku mengembuskan nafas tertahan.

Kedua tangan yang ku genggam, mulai ku buka perlahan. Aku menarik nafas pelan dan mencoba mengontrol diriku dengan menutup mata, agar tidak terlalu takut. Syutt!!! Selimutku terbuang, seperti ada yang menarik. Namun, lagi – lagi itu seperti angin yang sama. Sama dengan angin yang mengeluarkan buku dalam rak tadi. aku meringkuk di tengah ranjang dengan posisi miring melungker. Mataku, ku pejam kan se erat – eratnya sambil berharap agar hari cepat pagi. Aku tidak bisa berteriak yang ke dua kalinya, karena mama dan papa pasti akan marah jika aku berteriak lagi setelah di nasehati. Sebagai gantinya aku akan berpura – pura tidur tanpa selimut dengan posisi seperti ini hingga fajar.

Sorot mentari mulai masuk dari cela jendela. membuat mataku sedikit memicing karena sinar yang menyilaukan. Aku mulai duduk malas di atas ranjang dengan wajah kusut dan sedikit mengantuk karena kejadian tadi malam. Setelah mengamati se isi kamar, aku di buatnya kaget dengan apa yang aku lihat. Kamarku benar – benar berantakan. Semua barang yang tadinya tertata rapi dalam lemari, rak maupun meja. Kini sudah berserakan di atas lantai. Apa yang terjadi semalam? Sepertinya hantu – hantu itu sudah lama mengincarku. karena saat ini aku tidak memakai cincin itu, mereka terlihat senang menakutiku dengan cara seperti ini. dasar Setan sialan!  Aku turun dari ranjang dan mulai merapikan barang – barang ku ke tempat asal. Rasa takutku hilang, karena hantu takut pada matahari.

“Anak papa sudah bangun, bagaimana? apa semalam al bertemu hantu?” papa yang duduk di ruang santai menggodaku saat aku keluar kamar dengan menenteng tas sekolah.

“Ya, ada banyak. Mereka membuat kamar ku berantakan.” Aku memasang wajah cemberut kepada papa, berharap papa percaya meskipun sebenarnya tidak. Seperti biasa, aku memang anak tunggal kesayangan mama dan papa. Papa ataupun mama tidak akan marah Ketika aku bersikap manja, selagi itu masih pada batas wajar untuk anak se usiaku.”Al serius, pa.” aku menambahkan lagi, dengan wajah yakin. Papa hanya tertawa kecil.

“Apa Al se-sayang itu, dengan cincin kecil yang hilang?” papa bertanya. Kini topik pertanyaan berganti dengan mulus.

“Ya, Al tidak ingin cincin baru. Al ingin cincin itu saja. Ada banyak hantu di sekitar Al.” Ujarku. Tangan ku sibuk memakai kaos kaki. “Pa, hari ini adalah hari spesial Al. Papa ingat kan? Al ingin sepatu baru.” Aku menyambung, teringat percakapanku dan mama saat berjalan di dapur untuk memasak kemarin malam.

“mm…. apakah begitu?” wajah papa mengernyit, seakan lupa. Namun aku bisa membacanya, jika papa pura – pura lupa. “bagaimana dengan cincin?” tanya papa.

“Ayolah pa…, untuk cincin, Al akan mencarinya nanti…” aku memohon seperti anak kecil yang menginginkan permen.

“Sepatu Al sudah banyak, kenapa masih mau tambah satu?” Sahut mama. Tangannya sibuk membawa dua gelas jus jeruk.

“Al ingin warna biru, seperti anaknya tante Zel.” Aku menjelaskan, lantas tanganku menerima gelas yang berisi jus jeruk pemberian mama.

“Tapi ada hal yang lebih bagus dari sepatu, al.” ujar mama. “Apa kamu tidak menginginkannya?” sambung mama lagi. Tangannya mengelus lembut rambutku dengan jemarinya.

“Apa itu, ma? Jika lebih bagus dari sepatu mengapa tidak?”

“Tangan kamu, al.” kini giliran papa yang menjawab.

“Apa maksudnya? Mama dan papa bercanda ya? Nggak lucu, al mau sepatu saja.”

“Al adalah prajurit wanita. Petarung hebat negri angin. Apa Al tidak pernah menyadari, mengapa tangan Al selalu merusak tanaman? Dan bahkan hanya menyentuh tanaman seukuran pinggang, Al bisa menumbangkannya.  Itu semua karena tangan Al bisa mengeluarkan angin tornado kecil yang tak bisa dilihat, sebaba Al menggunakan cincin itu. Cincin itu menyerap Sebagian besar kekuatan Al. Itu bukan cincin pengusir hantu, melainkan cincin untuk mengurangi kekuatan atau bahkan menyembunyikannya.” aku kaget mendengar penjelasan papa yang tiba – tiba ini. apa saat ini papa sedang mendongeng? Atau bercerita tentang novel yang baru di belinya minggu lalu? aku memasang wajah bingung setengah mati, mencoba memahami raut wajah papa dan mama. Namun dari yang aku lihat, ke-Tiba – tibaan ini. sepertinya benar, papa dan mama terlihat sangat serius membicarakan ini. terlepas dari masalah sepatu baru tadi.

“Apa yang papa bicarakan? Al tidak paham.”

“Dari apa yang diceritakan papa, kamu bisa membuktikan sendiri di luar. Supaya kamu percaya. Saat ini, Al tidak menggunakan cincin. Kekuatan dari tangan Al, saat ini akan sangat besar dan bahkan bisa menumbangkan pohon besar maupun merobohkan bangunan yang besar. Karna itu, kami baru memberi tahu Al. maafkan, papa dan mama,tidak memberi tahu Al. Karena ini semua demi kebaikan dan keselamatan Al..”

Aku termenung sejenak, teringat kejadian semalam. Sepertinya memang benar, jika semalam aku yang membuat kamar ku seperti kapal pecah. Bukan hantu. Tapi aku tahu, jika hantu memang ada. Selama ini aku memang merasakan jika tanganku selalu terasa dingin dan seperti mengeluarkan angin saat aku menggenggam dan membuka tangan. Dari pada angin, mengapa tidak kekuatan menumbuhkan bunga? Raut wajah ku yang termenung, seketika mengernyit kesal.

“Sepertinya Al memang mempunyai kekuatan itu, tapi kenapa harus angin? “ aku bertanya sedikit kesal. Dari semua yang aku inginkan, sejak awal memang selalu bertentangan dengan ku. Termasuk kekuatan ku ini. Bukan membuat tanaman hidup hanya dengan sekali sentuh, melainkan malah membuatnya tumbang dan mati. “Al benci angin.” Ujar ku. Mama dan papa hanya tersenyum melihat ku cemberut.

“Mama tahu, Al akan berbicara seperti itu. awalnya mama memang membenci angin, namun saat mengetahuinya. Mama menjadi sangat menyukai angin. Angin yang menggerakkan semua kehidupan, membantu penyerbukan tanaman, membawa kesejukan, dan sesekali membawa kekuatan yang bisa menumbangkan apapun yang ada di hadapannya. Serta ada banyak alasan mengapa kamu diberikan nama allea, allea memiliki dua arti indah. angin badai dan seorang prajurit wanita amazon yang mampu bertarung dengan sangat baik. Karena saat ini adalah saat yang tepat menunjukkan pada negri angin, jika prajurit yang paling di takuti sudah tumbuh dan mampu memberikan kemakmuran untuk negri angin. Kamu akan mengetahui dan memahami ini semua, jika al mau. Dan jika al tidak ingin, maka al juga tidak akan mengetahui semuanya. Mengapa mama menyembunyikan ini dari al? Mengapa mama bisa menanam bunga namun al tidak? Mengapa al tinggal disini? Mengapa tidak tinggal di tempat asal al? Hingga, mengapa kamu diberikan nama Allea? Kamu dapat mengetahuinya sendiri jika ingin.” Mama menjelaskan. Tangannya tidak berhenti mengelus rambutku dengan manja.

“Al tidak ingin, ma. Angin hanyalah penghancuran.”

“Apa Al tidak ingin bisa menanam seperti mama kamu?” papa bertanya. Aku menatap papa, kaget. Benar, selama ini mama selalu menanam kan aku tanaman dan tangan mama tidak merusak tanaman sedikit pun. Bagaimana bisa? Dan yang lainnya, prajurit? Petarung? Negri angin? Entahlah apa-itu, namun ini terdengar menarik juga setelah ku pikir.

“Jika Al mau, Al harus ke negri angin. Al harus belajar mengendalikan angin dan di sana, Al juga bisa belajar menanam tanaman ataupun menghidupkan tanaman seperti yang Al inginkan.” aku terdiam sejenak.

“Baiklah, Al akan pergi” aku memutuskan. yakin. Aku tidak ingin berfikir Panjang tentang kekuatanku dan negri angin. Karena mama berkata ‘Jika Al ingin, Al akan mengetahuinya dan jika Al tidak ingin, Al juga tidak akan mengetahuinya’, aku sedikit bersemangat memahami kata – kata mama. Terdengar seperti sebuah kesempatan yang hanya bisa Al lakukan sendiri. Jika Al adalah prajurit wanita yang di akui dan dikenal, Al akan berjuang melakukan yang terbaik. Al pasti bisa.

 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebatas tinta buram

Insecure

Jombok