TAMAN BUNGKUL
Setelah
melihat dunia dan mengintip semua perjalananku, aku tersadar bahwasannya diriku
masih kurang. Aku tak berhenti menyamakan diriku dengan orang lain, menutup
mata dengan kelebihan yang kupunya, membenci diriku karena tak bisa melakukan
semua kehidupannku dengan baik. Aku mengalami depresi berkepanjangan terkait
itu. semakin aku besar, semakin aku tak bisa memahami diriku. Tak ada yang
menyayangiku, aku bukan orang kaya dan bukan orang yang memiliki banyak
koneksi. Mungkin jika aku berhasil melakukan satu hal, kuanggap itu adalah
hoki.
Aku
berjalan menyusui taman. Melihat banyak orang bisa tertawa lepas. Sedangkan
aku? Hanya berjalan dengan pakaian compang camping dan membawa tas ransel yang
berisi laptop dan dokumen skripsi, ingin mencari tempat yang nyaman untuk
mengerjakan skripsiku.
Sesekali
aku berfikir ingin membeli pentol, namun saat kulihat uang saku yang kumiliki
tinggal sedikit. ‘ini hanya cukup untuk membeli bensin saat pulang nanti.’
Gumamku dalam hati. Aku melanjutkan perjalanan mencari tempat sepi di taman
bungkul. ‘sepertinya aku terlambat, semua tempat penuh. Banyak anak muda yang
datang kemari untuk bersenang-senang.’ Sesekali aku mengeluh dengan tempat
tersebut.
Aku duduk
di kursi taman yang kebetulan kosong. Tetap saja, sekitarku penuh dengan anak
kecil yang asik bermain dengan kawannya didampingi oleh orang tuanya. Aku
menoleh ke arah lain, melihat dua anak muda yang tengah berpacaran. Tangannya
saling tertaut, kepala gadis itu di sanndarkan di bahu pasangannya sambil
memegang ice cream di tangan kirinya. ‘A…! aku cemburu!’ dalam hatiku berteriak
dan memaki tanpa henti.
Melihat
diriku yang menyedihkan. Setiap harinya hanya berusaha menjadi anak yang rajin,
tekun, dan tepat waktu. Hingga aku melupakan beberapa hal yang semua orang
miliki, yaitu kisah percintaanku. Aku tak memiliki itu, aku selalu tak acuh
dengan kisah asmaraku, aku tak peduli dengan diriku yang bahagia atau tidak.
Yang terpenting bagiku adalah mendapatkan nilai bagus untuk menebus keinginan
orang tuaku yang tak sempat aku lakukan saat aku menginjak SD, SMP, dan SMA.
Aku
menghela nafas sejenak. Menutup mata dan menundukkan kepalaku agar dapat
berfikir jernih kembali. ‘ayolah, kamu sudah menjalani skripsi. Kamu akan
mendapatkan kehidupan yang lebih layak dan lebih baik dari semua orang.’ Jelasku
dalam hati
Komentar
Posting Komentar